Langsung ke konten utama

Seorang Budak dan Buku


dulu, mungkin Endonesia mengenal yang namanya budak, jongos, pembantu, atau apalah itu. kerja rodi untuk para sahabatsahabat negara, untuk negara juga tentunya. Upeti atau apalah itu.

apakah saat itu ada pahlawan? untuk membebaskan budak-budak itu?
tentu saja ada. yang berupaya meminta para sahabat pulang karena saatnya tlah tiba adalah pahlawan, sebab sifat ksatrianyalah yang sederhana nan guna membawa para sahabat berbalik arah. ksatria yang belum begitu mewah di masa itu.

kenapa ada budak di masa itu?
mungkin Endonesia sedang terpenjara,
terjerat
pasal kebohongankebohongan
yang dibuatnya sendiri. sehingga,
rakyatnya yang menjadi budak-budak negara lain.

itu dulu...

apakah ada budak yang bisa menjadi pahlawan bagi tuannya?
ada. yakni.
ialah mereka yang membaca buku.
buku bisa menjadi tuan bagi mereka para budak.

budak bisa menyelamatkan kata-kata yang terpenjara, membantu memaknai makna yang tak pernah selesai.

budak yang pintar bisa membaca masalah-masalah di dalam kata-kata yang terpenjara.

budak bisa menjadi pahlawan bagi tuan mereka sendiri walau di dalam penjara.

Kata-kata tak pernah terbebas memaknai diri mereka sendiri. Namun, budak bisa bersama budak-budak yang lainnya.

(2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cita-Cita Muskito

Unsplash/quran Abah selalu meminta kepada anak-anaknya supaya kelak ketika salah satu anaknya menjadi seorang dokter, maka tidak boleh membuat pasien merasa tertekan karena penyakitnya, justru harus memotivasi supaya sembuh. Abah juga mengajarkan anaknya yang akan menjadi dokter itu untuk selalu meminta kepada Allah untuk diberi kemudahan dalam menangani pasien. Salah satu kandidat dokter adalah Kamila, anak pertama Abah yang sudah punya bakat menduduki peringkat tertinggi berturut-turut di setiap jenjang kelas. Jika berhasil menjadi dokter, nama Kamila akan berubah menjadi Dr. Kamila Ayu. Abah tak pernah memaksa anaknya untuk menjadi seorang seniman, karena seniman adalah orang yang benar-benar bisa melihat keindahan yang mungkin tidak orang lain lihat yang dikonkret menjadi sebuah karya. Entah rupa, suara, lukis, tari, musik, dan sebagainya. Jika seorang seniman dianggap sebagai sebuah pekerjaan, Abah tidak meyakini hal itu. Bagaimanapun juga, bagi Abah keindahan sebuah...

Ndusel Itu Enak, Kok Dilarang Sih :(

Ndusel atau ngungsel dalam bahasa Indonesia berarti ingin memeluk. Kata kerja tersebut akan terlaksana ketika dihadiri oleh dua objek. Pertama, disebut pendusel, atau objek utama, pelaku atau yang melakukan aktivitas dominan dari ndusel, kedua liyan sebagai objek pendukung. Walaupun berarti ingin memeluk namun, pada kenyataanya ndusel bisa dilakukan sambil memeluk. Ndusel, biasanya dilakukan oleh manusia, hewan tak terkecuali tanaman/pohon. Manusia dengan manusia, hewan dengan hewan. Manusia dengan hewan. Hewan dengan tanaman dimungkinkan bisa, tak terkecuali manusia dengan tanaman pun dapat dilakukan. Bagi dendrophilia (dalam psikologis istilah ini disebut sebagai kelainan seksual, yakni ada ketertarikan seksual ketika melihat pohon) hal ini sah-sah saja. Baginya, pohon bisa memuaskan hasrat seksualitasnya. Makna ndusel merupakan sebuah ekspresi seseorang yang sedang dalam kondisi manja. Manja ini, bisa disebut hasrat naluriah untuk diberikan rasa aman pada waktu tertentu. Ma...

Mengambil Jarak dengan Uang

                   Sumber foto: unsplash Mengambil sikap berjarak dengan uang merupakan sebuah keputusan yang sulit. Mengambil jarak maksudnya, bagaimana saya kembali menjadi 'tuan' mereka, setelah selama ini saya mempertuankan uang. Uang mengontrol saya, hingga saya merasa begitu dikontrol uang. Bayangkan, setiap waktu saya ingin bersama uang, menempelkan tangan pada dompet saya dengan intensitas yang tinggi di setiap harinya. Uang berkurang tanpa prediksi, dan perencanaan, kelimpungan, dan serba salah ketika menipis. Dan karena alasan-alasan tersebut, membuat saya untuk secepatnya mengambil keputusan untuk tidak terlalu dekat-dekat dengan uang. Menghabiskan waktu dengan uang: mendapatkan ataupun menggunakan, sama saja  melekatkan diri saya dengan uang. Hingga di suatu titik, saya memandang standar kehidupan bahagia mengukurnya dengan nominal uang yang ada di rekening saya. Saya bisa membeli apapun dengan uang dan hidup say...