Langsung ke konten utama

Ndusel Itu Enak, Kok Dilarang Sih :(


Ndusel atau ngungsel dalam bahasa Indonesia berarti ingin memeluk. Kata kerja tersebut akan terlaksana ketika dihadiri oleh dua objek. Pertama, disebut pendusel, atau objek utama, pelaku atau yang melakukan aktivitas dominan dari ndusel, kedua liyan sebagai objek pendukung. Walaupun berarti ingin memeluk namun, pada kenyataanya ndusel bisa dilakukan sambil memeluk.

Ndusel, biasanya dilakukan oleh manusia, hewan tak terkecuali tanaman/pohon. Manusia dengan manusia, hewan dengan hewan. Manusia dengan hewan. Hewan dengan tanaman dimungkinkan bisa, tak terkecuali manusia dengan tanaman pun dapat dilakukan.

Bagi dendrophilia (dalam psikologis istilah ini disebut sebagai kelainan seksual, yakni ada ketertarikan seksual ketika melihat pohon) hal ini sah-sah saja. Baginya, pohon bisa memuaskan hasrat seksualitasnya.

Makna ndusel merupakan sebuah ekspresi seseorang yang sedang dalam kondisi manja. Manja ini, bisa disebut hasrat naluriah untuk diberikan rasa aman pada waktu tertentu. Manja yakni kondisi seseorang/hewan yang ingin dikasihi, mesra, dan jinak. Manja adalah kondisi batin yang ingin dibuat nyaman dan aman. Manja bisa terbentuk dari dalam diri, ataupun dari lingkungan yang membentuknya.

Proses ndusel yang sempurna, harus memiliki tiga hal yang harus dipenuhi, yakni doa objek yang memiliki fisik, hasrat manja, dan ada kemauan untuk ndusel.

Aktivitas ndusel yang sempurna dilakukan oleh organ-organ tertentu. Organ yang paling penting pertama adalah kepala, kedua hidung, dan ketiak. Tangan bisa menjadi pelengkap aktivitas ini, namun tidak terlalu penting.

Ndusel pada manusia dilakukan dengan cara, menempelkan kepala di badan manusia ke daerah dekat ketiak. Arahkan muka ke ceruk ketiak. Lalu, hirup dan merasakan aroma pada objek yang lain. Carilah rasa nyaman dan aman itu. Setelah nyaman, bisa jadi kamu akan tenang.


Apakah orang lain merasakan apa yang dirasakan oleh pendusel? Jawabannya iya. Sebenarnya, pendusel memproduksi rasa nyaman dan aman dari dalam dirinya sendiri, akhirnya liyan secara tidak langsung menerima vibrasi itu dan tertransfer pesan bahwa ada orang yang membutuhkan rasa aman dan nyaman.

Liyan itu akhirnya merespon untuk membalas pesan itu dengan memberikan rasa aman dan nyaman. Reaksinya bisa dilihat dari pembalasan yang dilakukan liyan dengan cara memeluk, atau mengusap-usap rambut pendusel.

Rasa aman dan nyaman ini akan merangsang produksi endorfin pendusel, dan rasa bahagia itu akan muncul dalam diri pendusel.

Ndusel sebenarnya efektif untuk meredam rasa sedih, marah, kecewa, duka, dan lain sebaiknya. Karena rasa aman dan nyaman seolah-olah sudah diberikan oleh orang lain.

Jadi, jangan sungkan untuk ndusel. Ketika ndusel itu membuatmu bahagia, dan sebelum ndusel itu dilarang. :(

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cita-Cita Muskito

Unsplash/quran Abah selalu meminta kepada anak-anaknya supaya kelak ketika salah satu anaknya menjadi seorang dokter, maka tidak boleh membuat pasien merasa tertekan karena penyakitnya, justru harus memotivasi supaya sembuh. Abah juga mengajarkan anaknya yang akan menjadi dokter itu untuk selalu meminta kepada Allah untuk diberi kemudahan dalam menangani pasien. Salah satu kandidat dokter adalah Kamila, anak pertama Abah yang sudah punya bakat menduduki peringkat tertinggi berturut-turut di setiap jenjang kelas. Jika berhasil menjadi dokter, nama Kamila akan berubah menjadi Dr. Kamila Ayu. Abah tak pernah memaksa anaknya untuk menjadi seorang seniman, karena seniman adalah orang yang benar-benar bisa melihat keindahan yang mungkin tidak orang lain lihat yang dikonkret menjadi sebuah karya. Entah rupa, suara, lukis, tari, musik, dan sebagainya. Jika seorang seniman dianggap sebagai sebuah pekerjaan, Abah tidak meyakini hal itu. Bagaimanapun juga, bagi Abah keindahan sebuah...

Mengambil Jarak dengan Uang

                   Sumber foto: unsplash Mengambil sikap berjarak dengan uang merupakan sebuah keputusan yang sulit. Mengambil jarak maksudnya, bagaimana saya kembali menjadi 'tuan' mereka, setelah selama ini saya mempertuankan uang. Uang mengontrol saya, hingga saya merasa begitu dikontrol uang. Bayangkan, setiap waktu saya ingin bersama uang, menempelkan tangan pada dompet saya dengan intensitas yang tinggi di setiap harinya. Uang berkurang tanpa prediksi, dan perencanaan, kelimpungan, dan serba salah ketika menipis. Dan karena alasan-alasan tersebut, membuat saya untuk secepatnya mengambil keputusan untuk tidak terlalu dekat-dekat dengan uang. Menghabiskan waktu dengan uang: mendapatkan ataupun menggunakan, sama saja  melekatkan diri saya dengan uang. Hingga di suatu titik, saya memandang standar kehidupan bahagia mengukurnya dengan nominal uang yang ada di rekening saya. Saya bisa membeli apapun dengan uang dan hidup say...